Dua Planet Beda Bahasa!

Perempuan dan laki-laki memang datang dari planet yang berbeda. Menghadapi situasi serupa, keduanya bisa menanggapi dengan cara yang saling tidak diduga. Alhasil, selisih paham. Mungkin cerita-cerita ini pernah juga Anda alami.

MANDA DAN SANI
Manda ingin sekali dihadiahi dompet dari sebuah butik. Maka itu, menjelang ulangtahunnya ia rajin mengajak Sani singgah ke butik tersebut dan mengagumi dompet yang ditasirnya. Ketika ditanya ingin kado apa, Manda menjawab ‘dompet’. Namun, ia kecewa bukan main ketika membuka hadiah dari Sani. Sebuah clutch bag dengan model yang menurutnya ‘enggak banget’. Karena kecewa, Manda cemberut sepanjang hari dan membuat Sani bingung.

Kata Manda: Jelas-jelas saya minta hadiah dompet. Saya bahkan menunjukkan kepadanya dompet yang saya inginkan berikut tempat membelinya. Kok bisa-bisanya beli yang lain. Memang dia tidak pernah mendengarkan kalau saya berbicara.

Kata Sani: Manda memang beberapa kali mengajak saya mampir ke butik itu. Tapi saya enggak ngeh kalau dia ingin dihadiahi dompet yang ada di sana. Pasalnya, bukan cuma dompet, ia juga mengagumi sepatu, baju, tas, dan lain lain. Saya sudah setengah mati memilihkan kado yang bagus. Mana saya tahu kalau benda itu namanya clutch bag? Bentuknya kan, mirip dompet.

GADIS DAN PANJI

Dalam perjalanan ke Bandung untuk menghadiri pernikahan kerabat, Gadis ingin berhenti dan membeli minuman di rest-area. Namun, karena ingin bersikap ramah, Gadis bertanya apakah Panji lelah dan ingin beristirahat sebentar. Jawabannya ternyata tidak. Ketika melewati rest-area, Panji bahkan mempercepat laju kendaraan. Gadis kesal bukan main dan bersikap ketus sepanjang hari.

Kata Gadis: Panji betul-betul pria egois! Sama sekali tidak peduli keinginan saya. Di tengah cuaca panas begitu kan, perjalanan Jakarta-Banddung amat menyiksa kalau sedang kehausan. Bukannya menawari minuman, dia malah ngebut. Kan, saya jadi enggak enak memintanya menepi.

Kata Panji: Sumpah, saya sama sekali tidak tahu kalau Gadis ingin beli minuman. Saya pikir dia hanya menawari saya. Saya sama sekali enggak kepikiran kalau yang ingin minum itu sebenarnya dia. Saya ngebut supaya cepat sampai tujuan. Jadi kami punya cukup waktu untuk keliling Bandung. Bilang dong, kalau mau istirahat sebentar. Saya pasti tidak keberatan.

MARGIE DAN ARIEF

Berat badan Margie bertambah 2 kg. Alhasil, baju pesta andalannya kesempitan. Padahal, tak lama lagi ia berniat menghadiri pesta ulangtahun seorang teman. Ketika minta pendapat kekasihnya apakah perlu membeli baju baru atau tidak, Arief dengan cepat menawarkan tumpangan ke mal. Margie sakit hati karena merasa Arief secara tidak langsung mencela penampilannya saat ini.

Kata Margie: Saya memang jadi agak sensitif gara-gara badan bengkak sepulang dari tugas luar kota. Semestinya Arief membesarkan hati dengan mengatakan bahwa penampilan saya tetap menarik. Bukannya malah begitu semangat diajak membeli baju dengan size yang lebih besar.

Kata Arief: Saya tahu kalau Margie kesal gara-gara berat badannya naik. Meskipun kalau ditanyakan kepada saya, bobot yang bertambah itu sama sekali tidak tampak. Makanya, saya berusaha bersikap nice dengan menawarkan diri mengantar ke mal ketika dia mengatakan ingin beli baju baru. Apa masalahnya, sih?

LENA DAN BENNO

Sudah tiga kali Lena dan Benno melewati sebuah gedung bercat hijau ketika mencari alamat seorang teman. Resah karena mondar-mandir tak tentu arah, berkali-kali Lena meminta Benno menanyakan arah kepada orang yang mereka temui. Berkali-kali pula Benno menolak dengan suara kesal. Setelah tersasar hampir dua jam, akhirnya mereka berhasil tiba di tempat tujuan.

Kata Lena: Saya tak habis pikir mengapa Benno tak pernah mau berhenti untuk menanyakan arah. Kalau sejak awal kita bertanya kan, tidak perlu nyasar terlalu lama. Apa susahnya sih, menghentikan mobil sebentar?

Kata Benno: Buat apa tanya-tanya kepada orang lain? Kan, kami sudah punya peta ke arah tempat yang dituju. Mana saya tahu kalau ternyata peta yang diberikan kepada kami tidak akurat sehingga membuat bingung. Bujukan Lena untuk menepi dan menanyakan arah kepada orang lain membuat saya kesal. Kesannya, dia tidak percaya pada kemampuan saya mengemudi.

~ oleh Arfan di/pada Juli 3, 2008.

Tinggalkan Balasan